Rabu, 14 November 2012

Menjelang Maghrib: Al Quran dan Bahasa Arab



Sehari setelah diguyur dengan hujan, cuaca lembur koering masih dalam kondisi [ngelekeb] alias hareudang pisaN, yang jelas untuk dalam ruangan baik kamar maupun ruang tamu harus pake pendingin udara, atau yang sering disebut dengan istilah AC. Mungkin hal ini tidak berlaku bagi daerah lain yang hampir tiap hari diguyur hujan dari langit, Alhamdulillah!
 
Salam hangat dari penulis yang masih setia ingin bersilaturahmi dengan ikhwan/akhwat juga bapak, ibu sekalian dimanapun berada. Tidak ada kata yang paling indah untuk kita ucapkan baik untuk kita sendiri ataupun bagi kerabat, tetangga dan orang lain selain mengucapkan kalimat DO’A. selain merupakan ibadah, ini adalah tanda kebesaran dari Allah swt bagi mereka yang ingin dikabulkan permintaannya. 

Menjelang maghrib, dengan cemilan roti tawar plus Madu asli dari Kalimantan pamere ti Ijal sok sanajan memang maduna pait kacida, jigana dicampur ku batrawali. Tapi bae lah, da ieu mah ubar teuing pedah nu meres maduna keur Jangar, jadina pait! Tidak ada mendung, itu berarti poe ayeuna sudah dipastikan tidak akan turun gerimis mengundang “ngantuk”, apalagi munculnya sang Hilal sebagai penentu awal bulan, margi ayeuna sudah masuk tanggal pertengahan Dzul Qo’dah, sebentar lagi masuk musim Haji! Ya Rabb, pertemukanlah kami di Arofah-Mu tahun ini dan berikutnya!! Kullu sanah wa inti fil Harom,,,,

Kembali ke judul yang sudah penulis cantumkan sebagai bahasan sore hari ini, yaitu bagaimana kemudian kita mengenal wahyu terbaik, pedoman hidup kita sepanjang masa bagi pengikut Ummat Nabi Muhammad SAW. Karena yang paling penting dari Al Quran adalah, bagaimana kita mengenal, mencintainya lalu memahaminya untuk kita aplikasikan berikut dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud amal kebaikan. 

Diantawis point penting dalam upaya memahami Al Quran, adalah Bahasa Arab, yang sayang sekali hal ini tidak dikenal oleh para remaja atau pemuda/pemudi, para generasi pilihan untuk melanjutkan perjuangan. Banyak kita melihat dari sekian banyak remaja Islam di se-antero Nusantara yang betul-betul mempelajari bahasa-bahasa asing, misalnya Inggris, Prancis, Chines, Mandarin dsb. Justru mereka berbalik sikap dalam kaitannya dengan bahasa arab. Misalnya, sering kita lihat tidak sedikit dari remaja yang bangga dengan mengatakan “saya menguasai bahasa inggris!” Bahasa Arab seolah-olah tidak memiliki nilai bagi mereka. 

Bahasa Arab; punya Karakter
Bahasa Arab memanglah kaya, lebih kaya dari bahasa manapun. Kita tidak akan menemukan satu bahasapun di dunia ini yang memiliki kosakata sekaya bahasa Arab. Bahkan kata-kata yang merupakan akar bahasa sekalipun.
Akar kata dalam bahasa Inggris ada sekitar 20 ribu buah, tapi dalam bahasa Arab, jumlahnya mencapai 50 ribu buah. Dalam bahasa inggris, kita menemukan bahwa sebuah kata paling banyak dapat melahirkan Derivasi (kata turunan)  sebanyak 12 kata. Artinya, untuk sebuah kata, ada 12 kata jadian yang memiliki akar makna yang sama. Sedangkan dalam bahasa Arab, sebuah kata secara umum dapat melahirkan antara 40 sampai 50 kata turunan

Jumlah global kosakata dalam bahasa inggris adalah sekitar 20.000 x 12 = 240.000 buah kosakata. Sedangkan dalam bahasa Arab, jumlah itu mencapai 50.000 x 40 = 2.000.000 kosakata. Dari keterangan tadi, rasanya kita lebih pantas merasa bangga dengan bahasa sebagai cirri Khas agama Islam. Bahasa yang dijadikan bahasa komunikasi mereka yang dijanjikan Kenikmatan Surga oleh Allah swt. Sepertinya tidak ada lagi keutamaan yang lebih maknyus selain ini? 

Bahasa Arab; itu Unik!
Hal lain yang menakjubkan dalam bahasa Arab adalah bahwa kita dapat merasakan kandungan arti dari susunan huruf-hurufnya. Missal sebuah kata yang mengandung pengertian keras dan berat, biasanya menggunakan huruf-huruf yang berat untuk dilafalkan dalam bentuk lisan. Seperti dalam kata “Aghladho” (mengerasi), kita menemukan hufur Ghain dan huruf Dha.  

Sebaliknya, jika kata tersebut mengandung pengertian yang ringan dan lembut, ia pun akan menggunakan huruf-huruf yang ringan, seperti kata “nasmatun” (nyawa/jiwa), kata ini mengandung huruf-huruf lunak seperti Nun, Sin dan Mim. Dan begitulah seterusnya. 

Di sini gunung di sana gunung, di tengah-tengah ada kota Semarang
Maklum hari, hampir datang Lembayung, Penulis ingin Mandi dulu, karena hareudang
Sekian dulu, mudah2an kita bias berjumpa di lain kesempatan. 

Tasikmalaya, 11/10/2011.
NAFRI dan Layla (istriku TerSayang)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar